Kamis, 05 April 2012

Microchips Anti Bolos




Bolos sudah jadi masalah klasik di lingkungan sekolah sejak dulu. Selalu saja ada siswa yang enggan mengikuti kegiatan belajar-mengajar dan lebih memilih bolos saat jam pelajaran. Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi masalah kedisplinan yang satu ini. Cara yang menarik ditempuh oleh otoritas di kota Vitoria da Conquista, Bahia, Brazil. Untuk menekan angka bolos dikalangan siswa sekolah di timur kota Vitoria da Conquista, rencananya pihak otoritas akan memanfaatkan microchips. Seperti apa penggunaannya? Di sekolah yang mewajibkan siswa menggunakan seragam, biasanya para siswa membolos dengan tetap mengenakan seragamnya. Nah, dengan memanfaatkan hal inilah angka bolos akan dikurangi. Rencananya, sebuah microchips pendeteksi akan dipasang pada seragam sekolah setiap siswa. Kurang lebih 20 ribu siswa sekolah di bagian timur kota Vitoria da Conquista akan mendapatkan microchips tersebut. Menurut Coriolano Moraes, Direktur pendidikan kota Vitoria da Conquista, langkah ini diambil karena para orang tua dinilai kurang memperhatikan permasalahan membolos yang dilakukan anak-anak mereka. Ia mengatakan, banyak orangtua yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah, tetapi tidak melihat apakah anak-anak itu benar-benar masuk ke  gedung sekolah, karena mereka selalu pergi terburu-buru untuk bekerja. Chips komputer ini dipasang dibawah lencana lambang sekolah, atau lengan baju. Meskipun seragam dicuci dan disetrika, chips tidak akan rusak. Seragam yang dipasangi chips ini disebut ‘seragam cerdas’. Pada saat siswa-siswa melewati sensor yang terpasang di pintu masuk sekolah, chips akan memberitahu komputer, dan lantas sebuah pesan singkat (SMS) pemberitahuan akan dikirim kepada orangtua mereka. Jika siswa terlambat hingga 20 menit atau lebih, orangtua akan menerima pesan yang berbeda. Dengan begitu, orangtua akan tahu apakah anaknya benar-benar berangkat ke sekolah, telat, atau bahkan bolos. Penggunaan chips ini dikhususkan bagi siswa yang berusia 14 tahun atau lebih. Untuk keperluan sistem tersebut, pemerintah lokal telah mengeluarkan dana sekitar US$700,000 atau setara dengan sekitar Rp 6,4 milliar. Usaha yang tampak serius untuk pembenahan generasi mudanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar